Pages

Selasa, 14 Desember 2010

Sudut Pandang Remaja Tentang Pacaran

            Jadi keinget tugas dari Bu Jauhari, Guru Bahasa Indonesia beberapa waktu lalu, disuruh buat makalah tentang sudut pandang pacaran menurut beberapa nara sumber. Nah kita kupas dari sudut pandang remaja.
           Pacaran, adalah kata yang lazim kita dengar di pergaulan zaman sekarang. Hampir dalam setiap pembicaraan remaja, pasti memunculkan topik tentang ketertarikan terhadap lawan jenis. Tentulah ini adalah suatu proses yang normal dikarenakan oleh menigkatnya hormone-hormon seksual dalam tubuh. Secara fisik, hormone tersebut mempengaruhi bentuk fisik dan penampilan visual. Namun, secara psikologis, perkembangan hormone ini mempengaruhi pola pikir dan kondisi emosional remaja yang cenderung labil.
            Memang, ketertarikan kepada lawan jenis adalah suatu indicator utama terhadap perkembangan remaja. Berarti, kondisi baik secara fisik maupun psikis telah mengalami perubahan secara mendasar. Dikatakan mendasar, karena remaja beralih secara drastis dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan.
            Ketertarikan terhadap lawan jenis merupakan proses alamiah dalam rangka menemukan jati diri manusia. Seorang remaja akan mengidentifikasikan atau mengenali sifat-sifat dasarnya. Begitu pula akan berkembang menjadi mengenal pola hubungan terhadap orang lain. Kaitannya dengan lawan jenis, biasanya remaja memilih siapa yang lebih cocok untuk dirinya.
            Namun, perkembangan dunia secara global yang begitu cepat sangat mengubah norma-norma yang ada. Padahal, unsur kebudayaan dan lingkungan erat kaitannya dengan pembentukan jati diri. Masuknya budaya barat ke Indonesia jelas sekali mempengaruhi pola hubungan dalam dunia remaja. Sebagai contoh sederhana adalah cara remaja memilih gaya busana.
            Pacaran masa kini, boleh dibilang adalah produk akulturasi budaya. Aktivitas ini sebenarnya kalau diteliti sedikit lebih banyak mudharatnya. Dalam pembahasan ini, penulis tidak hendak mempengarui pemikiran, namun hanya mengajukan beberapa hal yang logis. Dalam kode etik jurnalistik, penulis dilarang memprovokasi dan hanya boleh menampilkan data sesuai dengan apa adanya.
            Aktivitas pacaran masa kini menimbulkan dampak utama yakni remaja yang dewasa. Kalau kita meruntut istilah remaja pastilah kita temukan bahwa remaja ialah masa peralihan dari kanak-kanak menuju kedewasaan. Jadi, dalam ilmu psikologi manapun tidak ditemukan remaja yang dewasa. Artinya, fenomena ini adalah suatu penyimpangan atau disorientasi karena tidak ada pemahaman secara mendalam.
            Berbagai kasus menunjukkan (pengalaman di lapangan penulis), bahwa remaja sudah memikirkan masalah yang menuntut kestabilan emosi. Saat masa peralihan, manusia tidak mempunyai kestabilan emosi dan berpikir logis. Bagaimana mungkin seseorang bias menyelesaikan masalah rumit namun dia tak mempunyai alat untuk memisah benang merah?
            Di saat kondisi itulah, remaja akan mengalami kejatuhan mental secara drastis. Yang dulunya pandai bisa menjadi lambat dalam berpikir karena kerja otaknya difokuskan pada permasalahan lain yang bukan porsinya. Lalu muncul fenomen curhat antar remaja. Di sinilah peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk memberikan dorongan dan penjelasan secara efektif.
            Dampak sekunder lainnya yang sering muncul adalah mengganggu aktivitas dalam bersosialisasi terhadap orang lain. Ada beberapa kasus yang gara-gara pacaran, persahabatan yang dibangun selama beberapa tahun retak atau malah berbalik bermusuhan. Di sini, seperti tercipta iklim persaingan dalam dunia animalia ketika memperebutkan pasangan untuk menghasilkan keturunan. Perlu dicatat, peran sahabat sejati seperti mahkluk hidup membutuhkan air. Terkadang ada masalah yang tak selamanya bisa dibcarakan dengan orang tua. Hanya kepada sahabatlah tempat berkonsultasi.
            Dalam agama, tidak dibahas secara rinci. Dalam Al-Quran, secara jelas yang intinya menyebutkan bahwa cinta sepanjang masa hanya ada 3, yakni cinta Allah kepada umat-Nya, cinta Rasul kepada umatnya, serta cinta seorang ibu kepada anaknya. Tetapi, dalam sebuah kisah Al-Hadis disebutkan tentang hubungan antar lawan jenis yang mrip dengan pacaran. Itupun dengan syarat-syarat bahwa keduanya berkomitmen melanjutkan ke tingkat pernikahan dan telah matang usia psikis sehingga mampu berpikir dan membedakan mana yang baik dan mana yang benar.
            Kasus yang sedang menjadi trend saat ini adalah kehadiran orang ketiga dalam suatu hubungan. Sebenarnya, ini hanyalah masalah yang sederhana. Semua ini berawal dari kesalahpahaman tentang cinta lalu berujung pada nafsu. Bisa disimpulkan, bahwa dalam prosesnya remaja sama sekali belum mengerti tentang cinta. Secara umum mereka berasumsi bahwa cinta itu saling memimiliki atau sesuatu yang harus diungkapkan. Akhirnya, semua bermuara pada nafsu dan pemahaman yang salah sasaran akibat dewasa terlalu dini. Ibarat buah mangga harus matang dipohon, namun malah matang karena proses pematangan karbid. Tentu selain rasanya yang kurang enak, malah kandungan gizi di dalamnya berkurang.
            Masalah pacaran termasuk dalam maslaah yang riskan dalam dunia remaja. Pengenalan dan proses sosialisasi yang tidak sempurna dapat mengganggu keseimbangan emosi dalam tubuh kita. Perlu diingat bahwa saat remaja kita tak ubahnya seperti bunglon. Kemanapun kita pergi kita akan berubah sesuai dengan tempat hinggapnya. Jati diri adalah komponen paling utama yang menentukan keberhasilan. Keunggulan sekaligus kelemahan dari seorang remaja adalah keluguan dan kemurnian dari hati dan jiwanya.
            Banyak sekali yang belum remaja mengerti. Sebalinya, kita patut member apresiasi kepada para remaja yang sudah mampu mengembangkan dirinya sehingga kehidupannya semakin kompleks seperti orang dewasa. Tidak ada yang mengerti tentang masalah remaja kecuali remaja itu sendiri. Sangat menarik. Kemlani lagi kepada para remaja. Uraian-uraian di atas adalah pengalaman-pengalaman di lapangan dari penulis dan sama sekali tidak mengada-ada. Sekali lagi, uraian ini tidak bemaksud memprovokasi namun memberikan suatu wacana yang logis terhadap suatu fenomena.
            “Orang bilang cinta itu adalah intisari nikmat duniawi”
            “Orang bilang cinta itu kebahagian sejati”
            “Orang bilang cinta seperti embun tetes pertama”
            “Berarti cinta adalah hidup dalam setiap angan-angan yang percaya kepadanya”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar